Jumat, 28 Agustus 2009

ARTI PENTING PERKEMBANGAN SISWA DALAM URUSAN PROSES BELAJAR AGAMA ISLAM

BAB II
PEMBAHASAN

A. ARTI PENTING PERKEMBANGAN KOGNITIF BAGI PROSES BELAJAR SISWA
Antara proses perkembangan dengan proses belajar mengajar yang dikelola para guru terdapat “benang merah” yang mengikat kedua proses tersebut. Sehingga hampir tak ada proses perkembangan siswa baik jasmani maupun rohaninya yang sama sekali terlepas dari proses belajar mengajar sebagai pengejawantahan proses pendidikan. Apabila fisik dan mental sudah matang, pancaindra sudah siap menerima stimulus-stimulus dari lingkungan, berarti kesanggupan siswa pun sudah tiba.
Program pengajaran disekolah yang baik adalah yang mampu memberikan dukungan besar kepada para siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan mereka.
Pengetahuan mengenai proses perkembangan dengan segala aspeknya itu sangat banyak manfaatnya, antara lain :
1. Guru dapat memberikan layanan bantuan dan bimbingan yang tepat kepada para siswa, relevan dengan tingkat perkembangannya.
2. Guru dapat mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa tertentu, lalu segera mengambil langkah yang tepat untuk menanggulanginya.
3. Guru dapat mempertimbangkan waktu yang tepat untuk memulai aktivitas proses belajar mengajar bidang studi tertentu.
4. Guru dapat menemukan dan menetapkan tujuan-tujuan pengajaran (TIU dan TIK) materi pelajaran atau pokok bahasan pengajaran tertentu.
Salah satu kesulitan pokok yang dialami para guru dalam semua jenjang pendidikan adalah menghayati makna yang dalam mengenai hubungan perkembangan khususnya ranah kognitif dengan proses belajar mengajar yang menjadi tanggung jawabnya.
Ranah psikologi siswa yang terpenting adalah ranah kognitif. Ranah kejiwaan yang berkedudukan pada otak ini, dalam perspektif psikologi kognitif, adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya, yakni ranah afektif (rasa) dan ranah psikomotor (karsa). Organ otak sebagai markas fungsi kognitif bukan hanya menjadikan penggerak aktivitas akal pikiran, melainkan juga menara pengontrol, aktivitas persaan dan perbuatan. Sebagai pengontrol otak selalu bekerja siang dan malam. Sekali kita kehilangan fungsi-fungsi kognitif karena kerusakan berat pada otak, martabat kita hanya berbeda sedikit dengan hewan.
Demikian pula halnya orang yang menyalahgunakan kelebihan kemampuan otak untuk hal-hal yang merugikan kelompok lain apalagi menghancurkan kehidupan mereka, martabat orang tersebut tak lebih dari martabat hewan atau mungkin lebih rendah lagi. Itulah sebabnya, pendidikan dan engajaran perlu diupayakan sedemikian rupa agar ranah kognitif para siswa dapat berfungsi secara positif dan bertanggung jawab.
Di antara temuan-temuan riset yang menonjol yakni otak, otak adalah sumber dan menara pengontrol bagi seluruh kegiatan kehidupan ranah-ranah psikologis manusia. Otak tidak hanya berpikir dengan kesadaran, tetapi juga berpikir dengan ketidaksadaran. Pemikiran tidak sadar (unconscious thinking) sering tejadi pada diri kita. Ketika kita tidur misalnya, kita bermimpi, dan mimpi adalah sebuah bentuk berpikir dengan gambar-gambar tanpa kita sadari. Alhasil ranah kognitif yang dikendalikan oleh otak kita itu memang karunia Tuhan yang luar biasa, dibandingkan dengan oargan-organ tubuh lainnya.
Tanpa ranah kognitif, sulit dibayangkan seorang siswa dapat berpikir. Selanjutnya, tanpa kemampuan berpikir mustahil siswa tersebut dapat memahami dan meyakini faidah materi-materi pelajaran yang disajikan kepadanya. Tanpa berpikir juga sulit bagi siswa untuk menangkap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran yang ia ikuti, termasuk materi pelajaran agama.
B. FAEDAH PENGEMBANGAN RANAH KOGNITIF SISWA
1. Mengembangkan kecakapan kognitif
Ada dua macam kecakapan kognitif siswa yang amat perlu dikembagkan secara khususnya oleh guru, yakni : a) strategi belajar memahami isi materi pelajaran, b) strategi meyakini arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut.
Strategi adalah sebuah istilah populer dalam istilah psikologi kognitif, yang berarti prosedur mental yang berbentuk tatanan tahapan yang memerlukan alokasi upaya-upaya yang bersifat kognitif dan selalu dipengaruhi oleh piihan-pilihan kognitif atau pilihan-pilihan kebiasaan belajar (cognitive preferences) siswa. Pilihan kebiasaan belajar ini secara global terdiri atas : 1) menghafal prinsip-prinsip yang terkandun dalam materi, 2) mengaplikasikan prinsip-prinsip materi.
Preferensi kognitif yang pertama pada umumnya timbul karena dorongan luar (motif ekstrinsik) yang mengakibatkan siswa menganggap belajar hanya sebagai alat pencegah ketidak lulusan atau ketidak naikan. Aspirasi yang dimilikinya pun bukan ingin menguasai materi secara mendalam, melainkan sekadar asal lulus atau naik kelas. Sebaliknya, preferensi kognitif yang kedua biasanya timbul karena dorongan dari dalam diri siswa sendiri (motif intrinsik), dalam arti siswa tersebut memang tetrtari dan membutuhkan materi-materi yang disajikan gurunya.
Tugas guru dalam hal ini adalah menggunakan pendekatan mengajar yang memungkinkan para siswa menggunkan strategi belajar yang berorientasi pada pemahaman yang mendalam terhadap isi materi pelajaran. Guru juga diharapkan mampu menjauhkan para siswa dari strategi dan preferensi akal yang hanya mengarah ke aspirasi asal naik atau lulus. Guru juga sangat diharapkan mampu menjelaskan nilai-nilai moral yang terkandung dalam materi yang ia ajarkan, sehingga keyakinan para siswa terhadap faidah materi tersebut semakin tebal dan pada gilirannya kelak ia akan mengembangkan dan mengaplikasikan dalam situasi yang relevan.
Selanjutnya guru juga dituntut untuk mengembangkan kecakapan kognitif para siswa dalam memecahkan masalah dengan menggukanakan pengetahuan yang dimilikinya dan keyakinan-kayakinan terhadap pesan-pesan moral atau nilai yang terkandung dan menyatu dalam pengetahuannya.
2. Mengembangkan kecakapan afektif
Keberhasilan pengembangan ranah kognitif tidak hanya akan membuahkan kecakapan kognitif, tetapi juga menghasilkan kecakapan ranah afektif. Sebagai contoh, seorang guru agama yang piawai dalam mengembangkan kecakapan kognitif dengan cara tadi diatas, maka akan berdampak positif terhadap ranah afektif para siswa. Dalam hal ini, pemahaman yang mendalam terhadap arti penting materi pelajaran agama yang disajikan guru serta preferensi kognitif yang mementingkan aplikasi prinsip-prinsip tadi akan meningkatkan kecakapan afektif ini, antara lain berupa kesadaran beragama yang mantap.
Dampak positif lainnya adalah dimilikinya sikap mental keagamaan yang lebih tegas sesuai dengan tuntutan ajaran agama yang telah ia pahami dan yakini secara mendalam.
3. Mengembangkan kecakapan psikomotor
Kecakapan psikomotor ialah segala amal jasmaniah yang konkret dan mudah diamati, baik kuantitasnyamaupun kualitasnya, karena sifatnya yang terbuka. Namun, kecakapan psikomotor tidak telepas dari kecakapan afektif. Jadi, kecakapan psikomotor siswa merupakan manifestasi wawasan pengetahuan dan kesadaran serta sikap mentalnya.
Banyak contoh yang membuktikan bahwa kecakapan kognitif itu berpengaruh besar terhadap berkembangnya kecakapan psikomotor. Para siswa yang berprestasi baik (dalam arti yang luas dan ideal) dalam bidang pelajaran agama misalnya sudah tentu akan lebih rajin beribadah shalat, puasa, dan mengaji. Dia juga tidak akan segan-segan memberi pertolongan atau membantu kepada orang yang memerlukan. Sebab, ia merasa memberi bantuan itu adalah kebajikan (afektif), sedangkan perasaan yang berkaitan dengan kebajikan tersebut berasal dari pemahaman yang mendalam tehadap materi pelajaran agama yang ia terima dari gurunya (kognitif).
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A. Arti Penting Perkembangan Kogitif bagi Proses Belajar Siswa
B. Faidah Pengembangan Ranah Kognitif Siswa
1. Mengembangkan Kecakapan Kognitif
2. Mengembangkan Kecakapan Afektif
3. Mengembangkan Kecakapan Psikomotor
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Upaya guru dalam mengembangkan keterampilan ranah kognitif para siswanya merupakan hal yang sangat penting jika guru tersebut menginginkan siswanya aktif mengembangkan sendiri keterampilan ranah-ranah psikologis lainnya.
Seperti mengembangkan kecakapan Kognitif, mengembangkan kecakapan Afektif, mengembangkan kecakapan Psikomotor.



DAFTAR PUSTAKA

Syah, Muhibbin. 1993. “Arti Penting Aspek Kognitif dalam Pengajaran Agama”, dalam mimbar studi, IAIN SGD. Bandung, No. 53/XV/1993.
Syah, Muhibbin. 1995. “Psikologi Pendidikan”, Bandung.



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan adalah proses atau tahapan perubahan kearah yang lebih maju. Belajar adalah tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Mengajar merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa.
Di dalam makalah ini secara berturut-turut akan membahas arti penting perkembangan kognitif bagi proses belajar siswa, faidah pengembangan ranah kognitif siswa, di dalam itu nya juga membahas tentang mengembangkan kecakapan kognitif, afektif, psikomotor.

B. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui perkembangan
2. Untuk mengetahui proses belajar
3. Untuk mengetahui proses belajar-mengajar


KATA PENGHANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena atas hidayah-Nya makalah ini dapat diselesaikan. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah curahkan kepada baginda kita junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah ke zaman yang terang benderang seperti sekarang ini.
Makalah ini penulis sampaikan kepada Pembina mata kuliah Psikologi Pendidikan sebagai salah satu syarat bisa mengikuti Ujian Akhir Semester mata kuliah tersebut. Tidak lupa saya ucakan terima kasih kepada Bapak yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada penulis mengajar Psikologi Pendidikan.
Penulis memohon kepada bapak dosen khususnya, umumnya para pembaca barangkali menemukan kesalahan atau kekurangan dalam makalah ini, baik dari segi bahasanya maupun isinya harap maklum. Selain itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun kepada semua pemaca demi lebih baiknya karya-karya tulis yang akan datang.


Bandung, juni 2009

Penyusun

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar